Menu
(0232) 875847 info@stikku.ac.id
Asmadi 1

MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA ANTI NARKOBA MELALUI OPTIMALISASI FUNGSIONAL OTAK *)

Penulis: Ns. Asmadi, M.Kep., Sp.Kom Pengajar pada Program Studi Keperawatan STIKes Kuningan, Jawa Barat

Kàrakter dalam kamus besar Bahasa Indonesia mengandung arti watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Mengacu pada definisi ini, karakter tiap orang berbeda. Namun, secara umum ada karakter yang sama secara insani. Setiap manusia mempunyai hati dan kecenderungan menyenangi sesuatu yang baik. Namun di sisi lain manusia juga memiliki napsu emosional yang cenderung mendorong untuk melakukan perbuatan yang negatif.

Dengan demikian manusia memiliki dua sisi potensi yaitu potensi untuk melakukan perbuatan baik, sehingga memiliki karakter yang baik pula. Dan potensi untuk melakukan perbuatan negatif yang dapat membentuk karakter yang negatif. Potensi yang baik perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan, sehingga potensi yang negatif dapat tertutup dan tidak muncul.

Setiap orang, termasuk mahasiswa, memiliki potensi-potensi tersebut. Mahasiswa secara tahap perkembangan termasuk pada kelompok dewasa awal. Hurlock (2014) mengkategorikan batasan usia dewasa awal yaitu dari usia 18 tahun hingga 40 tahun. Pada usia ini seseorang sudah mampu mengambil keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Selain itu, pada dewasa awal ini seseorang mulai mengeksplorasi diri terutama dalam berhubungan dengan orang lain seperti menjalin hubungan asmara dan pekerjaan. Oleh karenanya pada usia ini seseorang mulai menjalin hubungan cinta dengan lawan jenis, mencari pekerjaan atau melanjutkan studi. Namun, di sisi lain pada usia ini masih terjadi ketidakstabilan untuk menentukan pilihan hidup atau pekerjaan karena masih berfokus pada diri sendiri.

Karakteristik perkembangan tersebut akan membentuk karakter seseorang. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam menjalankan tugas perkembangan tersebut diolah dan disimpan sebagai memori dalam otak yang akan berdampak terhadap karakter. Sebab, karakter yang ada pada seseorang merupakan akumulasi dari kinerja seluruh bagian otak sebagai produk dari interkoneksi dan interdependensi bagian-bagian otak (Pasiak, 2011). Ini menunjukkan kalau karakter berkaitan dengan fungsional otak.

Otak menyimpan informasi yang didapat dari berbagai sumber lalu disimpan menjadi memori kemudian terstimulasi dan dimanifestasikan dalam bentuk perilaku sebagai suatu respon. Kemampuan merespon ini yang merepresentasikan kecerdasan manusia baik berkaitan dengan kecerdasan intelegensia, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial maupun kecerdasan spiritual. Dengan demikian dapat dikatakan  bahwa karakter seseorang dihasilkan dari kesatuan kinerja fungsional otak dan kecerdasan diri.

Fungsional otak atau kemampuan otak dan pembelajaran merupakan dua hal yang saling terkoneksi. Keduanya menjadi hal penting dalam pembentukan katakter. Pembentukan dan pengembangan karakter tentunya tidak terlepas dari kebiasaan yang terus-menerus dilakukan secara berulang. Pembiasaan perilaku dilakukan membuat otak membentuk sirkuit baru. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, maka akan terbentuk struktur tetap dalam otak.

Kemampuan otak tersebut disebut dengan istilah neuroplastisitas. Menurut Pasiak (2011), neuroplastisitas adalah kemampuan otak membentuk sirkuit baru, mengubah kinerja zat kimia pembawa pesan dan membangun hubungan-hubungan yang menetap.

Dengan demikian pembiasaan akan membentuk pola pikir dan pola laku yang makin menguat. Pembenaran dan rasionalisasi dari perilaku yang dilakukan menjadi kuat, sehingga kemungkinan sulit untuk dirubah. Inilah yang menyebabkan mengapa seseorang yang mengalami adiksi sulit untuk berhenti.

Selain pembiasaan, peniruan juga mempengaruhi terbentuknya karakter. Termasuk adanya orang lain yang menjadi idola atau panutan. Dosen merupakan sosok yang disadari atau tidak menjadi role model bagi mahasiswanya. Apa yang dilihat dan dialami oleh mahasiswa selama berinteraksi dengan dosen menjadi suatu stimulus diterima otak lalu diolah dan direspon ke dalam perilaku.

Menilik pada karakteristik penyalahgunaan narkoba dimana faktor yang secara umum dan besar kontribusinya terhadap terjadinya penyalahgunaan narkoba dibagi dua yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor ekstrinsik yang besar pengaruhnya yaitu faktor keluarga dan sosial (pergaulan). Sedangkan faktor intrinsik yang besar pengaruhnya adalah kemampuan self control dan religiusitas.

Faktor keluarga seperti keharmonisan dalam keluarga dan pola asuh merupakan beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang mengkonsumsi narkoba. Ketidaknyamanan ditengah keluarga dapat memicu seseorang mencari tempat dan teman yang bisa memberikan kenyamanan. Celakanya tempat dan teman yang diperolehnya keliru. Narkoba ditawarkan awalnya sebagai “obat” pengalihan dari stress. Lalu meningkat menjadi ketergantungan atau adiksi.

Begitu pula dengan faktor intrinsik. Ketidakmampuan untuk mengendalikan diri (self cintrol) membuat seseorang mudah dipengaruhi termasuk pengaruh dari teman pergaulannya. Religiusitas memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan dan potensi orang dan menjadi benteng terakhir diri.

Seseorang dengan religiusitas yang rendah sangat rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Hasil penelitian Rahmadona dan Agustin  (2014) didapatkan 85,4% responden yang menyalahgunakan narkoba memiliki tingkat religiusitas yang rendah dibandingkan dengan bukan penyalahguna narkoba.

Berbagai faktor di atas secara general dapat dikatakan ketidakmampuan menghadapi dan mengatasi stressor menjadi substansi permasalahan yang dialami oleh seseorang sehingga terjerumus menjadi pengguna narkoba. Berkenaan dengan stress setiap orang memiliki stressor yang berbeda dan meresponnya pun berbeda.

Ada orang yang mengalami stres tapi justru membuatnya makin sukses. Ini disebut dengan eustress. Namun sebaliknya, stress menjadi distress ketika seseorang makin terperosok dengan stres yang dialaminya. Intinya adalah kemampuan beradaptasi terhadap stress menjadi kunci dalam merespon setiap permasalahan yang dihadapi.

Untuk mengatasi stres diperlukan kemampuan kecerdasan secara rasional (intelegensia), emosional, sosial dan spiritual. Kemampuan mengatasi stress dapat diimplementasikan dengan istilah STOP. STOP merupakan akronim yang mengandung komponen berbeda yaitu Source, Trial and error, Others, dan Patience and prayer (Asmadi, 2008).

Source artinya adalah gali dan kaji serta analisis apa sumber permasalahan yang dihadapi. Tidak mungkin permasalahan yang terjadi tanpa ada penyebabnya. Oleh karenanya perlu terus mencari dan menggali sumber penyebabnya. Bila sudah ditemukan sumber penyebab masalahanya, maka selanjutnya adalah buatlah berbagai rencana intervensi untuk mengatasinya. Recana intervensi tersebut selanjutnya diimplementasikan. Artinya, lakukan dan uji cobakan (trials and error). Gagal satu intervensi ganti dengan intervensi lain. Begitu seterusnya.

Kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah tentunya ada keterbatasan. Oleh karena itu diperlukan bantuan orang lain (others). Tentunya harus tepat dalam mencari bantuan orang lain. Others yang dimaksud adalah orang profesional misalnya konselor, terapis. Selain bantuan dari orang lain, hal yang harus diyakini adalah bahwa Allah SWT tidak mungkin membebani suatu kaum melebihi kemampuannya. Oleh karena itu, sabar dan terus berdoa (pàtience and prayer) merupakan strategi utama dalam setiap mengatasi masalah. Kesabaran dan doa yang tulus akan membuahkan hasil ketenangan dan solusi yang tak terduga. Pendekatan STOP ini bersifat general yang bisa diaplikasikan dalam berbagai konteks termasuk pencegahan dan rehabilitasi narkoba.

*) Materi disampaikan pada Desiminasi Informasi P4GN oleh BNNK Kuningan Melalui Talkshow dengan tema Mahasiswa Sebagai Pilar Pembangunan Tanpa Narkoba di Universitas Kuningan, Senin  29 April 2019.

Daftar Referensi

  1. Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
  2. Hurlock E.B. 2014. Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan.
  3. Pasiak T. et al. 2011.  Mengatasi Narkoba dengan Welas Asih. Jakarta: Gramedia
  4. Rahmadona E dan Agustin H. 2014. Faktor yang Berhubungan Dengan Penyalahgunaan Narkoba di RSJ Prof. H.B. Sa’anin. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol.8. Hal 60-66 Edisi April-September 2014

MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA ANTI NARKOBA MELALUI OPTIMALISASI FUNGSIONAL OTAK