JURUS JITU MELAWAN COVID-19

Oleh : Ns. Aria Pranatha, S.Kep.,M.Kep

(Dosen Prodi S1 Keperawatan & Ners STIKKU, Ketua Divisi Bidang Informasi Teknologi dan Penelitian PPNI Kab.Kuningan)

Akhir-akhir ini perkembangan Covid-19 menurut data Satgas Covid-19  nasional maupun daerah  semakin meningkat,  khususnya kabupaten Kuningan berdasarkan Tim Crisis Center Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kuningan, saat ini jumlah kasus ada 1.675, terdiri dari Orang Tanpa Gejala (OTG) berjumlah  170, Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 1.413, Pasien Dalam Pengawasan (ODP) berjumlah 92 dan Positif Covid-19 berjumlah 18. Kalau melihat grafik pertambahan kasus Covid-19 dari tanggal 27 – 29 April 2020 penambahan jumlah pasien yang positif dirata-ratakan bertambah 1 kasus setiap harinya.

Tentunya banyak faktor yang menyebabkan penambahan jumlah tersebut, salah satunya bisa kita lihat dari berita maupun sosial media pemudik yang berdatangan dari daerah endemis atau zona merah yang pulang ke kuningan sangat banyak mencapai puluhan ribu. Hal ini bukan bearti mengeneralisir bahwa setiap pemudik yang datang membawa virus corona, tapi secara teori kemungkinan orang yang berada daerah endemis kemungkinan besar dapat terpapar virus Corona, sehingga tanpa disadari orang tersebut dapat menularkan kembali kepada orang lain di kampung halamannya. Begitupula tak kalah pentingnya penyebab lain yaitu masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan anjuran pemerintah dalam mencegah dan memutus mata rantai Covid-19.

Perkembangan Covid-19 ini menurut penulis bisa ditekan dengan memutus mata rantainya yaitu dengan Jurus Jitu 3D yaitu Disiplin, Data yang diberikan jujur dan Doa.

Disiplin

Kata- kata disiplin ini sesuatu yang ringan diucapkan akan tetapi terkadang masih banyak yang berat dalam mengaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa kita lihat contohnya pemerintah sudah mengeluarkan surat edaran tentang protap pencegahan Covid -19 tapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang mengabaikannya. Hal ini bisa dilihat masih banyak ditemukan masyarakat yang keluar rumah tidak menggunakan masker, H-2 Romadhon dibeberapa ruas jalan terlihat ramai masyarakat yang belanja sehingga menyebabkan lalu lintas padat. Oleh karena itu untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yaitu dengan Disiplin mengikuti arahan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19, yaitu Disipilin untuk tetap dirumah (social distancing), Disiplin menjaga jarak, Disiplin menjaga pola hidup yang sehat dan bersih dengan olahraga teratur, menjaga kebersihan lingkungan, persering cuci tangan menggunakan sabun maupun antiseptic, cukup istirahat dan makanan yang bergizi agar imunitas meningkat, Disiplin selalu menggunakan masker serta yang terpenting bagi pemudik harus disiplin melaporkan kedatangannya ke perangkat RT, RW, Fasyankes dan disiplin untuk isolasi mandiri. Kemungkinan besar interaksi antara pemudik yang terpapar virus Corona dengan orang yang disekitarnya akan menyebabkan penularan Covid-19.

Data

Data yang diberikan dengan jujur. Hal ini disampaikan kepada pasien yang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan baik puskesmas, rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, untuk memberikan data atau informasi dengan sejujurnya, agar petugas dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Jika pasien tidak memberikan informasi dengan jujur, bahkan pasien dan keluarga cenderung menutup-nutipi, maka ini akan membahayakan keluarga sendiri, orang sekitar dan petugas kesehatan yang berada digarda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan juga akan dengan mudah tertular Covid-19. Banyaknya kasus petugas kesehatan yang tertular baik dokter maupun perawat, salah satu penyebabnya dikarenakan kontak langsung pada saat melayani pasien yang tanpa disadari pasien sudah terpapar virus corona dan pasien pun tidak memberikan data atau informasi secara jujur pada saat dianamnesa petugas kesehatan menanyakan riwayat pasien yang bepergian keluar kota atau anggota keluarganya yang datang dari luar kota daerah endemis. Hal ini menjadi penyebab penularan penyakit terhadap petugas kesehatan dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu kita semua berharap jadilah pasien yang bijak dan jujur, selalu memberikan data yang sebenar-benarnya, dengan memberikan data yang sebenarnya bearti pasien tersebut sudah berkontribusi dalam memutus mata rantai Covid-19. Jika tidak jujur dalam memberikan data, maka pasien maupun keluarga akan dihadapkan dengan delik hukum yang sudah melanggar UU No.29 tahun 2004, Unang-undang no 4 Tahun 1984 pasal 14 dan UU No 6 tahun 2018 pasal 93 tentang karantina kesehatan yang sangsinya dipidana 1 tahun atau denda paling banyak 100 Juta.

Doa

Setelah kita melakukan berbagai ikhtiar untuk mencegah penularan Covid-19, maka sebagai umat muslim yang sedang menjalani puasa Romadhon, maka sangat disarankan untuk terus menerus berdoa dan tawakal kepada Allah swt.  kita meyakini musibah yang terjadi di atas muka bumi tidak mungki terjadi tanpa seijin Allah swt. Oleh karena itu dibulan Romadhon ini mari kita perbanyak melakukan aktifitas ibadah dirumah seoptimal mungkin, perbanyak doa agar Allah swt segera mengangkat Covid-29 dari muka bumi ini, bukankah dalam sebuah hadist telah disampaikan, doa orang yang berpuasa akan dikabulkan Allah swt,

Mudah-mudahan badai Covid-19 segera berlalu dan menjadi Romadhon penuh keberkahan,  sehingga umat islam dapat menikmati ibadah romadhon di tahun ini. Aamiin ya rabbal ‘alamin

Allahu’alam bisshawab