Menu
(0232) 875847 info@stikku.ac.id
Nikah 2

BEM dan UKM Gamisku Gelar Diskusi Publik Tentang Nikah Muda dalam Perspektif  Kesehatan Reproduksi dan Agama Islam

Kuningan – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan UKM Gamisku Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Kuningan menyelenggarakan acara gelar diskusi publik tentang faktor dan dampak nikah muda dalam perspektif kesehatan reproduksi dan Agama Islam bertempat di gedung Sanggariang Kuningan, Sabtu (20/4).

Ketua STIKes Kuningan, H.Abdal Rohim, S.Kp., MH menyambut baik adanya kegiatan diskusi publik dalam rangka memberikan edukasi kepada anak muda tentang pentingnya pemahaman dan pengetahuan kesehatan sebelum memutuskan untuk nikah di usia muda.

“Generasi milenial atau remaja sangat perlu memahami informasi tentang dampak nikah muda dari sisi kesehatan sehingga bisa menjadi referensi dari berbagai aspek mulai dari kesehatan reproduksi, psikologi dan juga mental sehingga bisa mengurangi resiko yang tidak diharapkan” ucapnya

Kegiatan ini diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa STIKKu dan masyarakat umum. Turut hadir dalam acara tersebut, Bupati Kuningan H. Acep Purnama, S.H., M.H. yang datang sekaligus membuka acara tersebut memberikan apresiasi yang positif kepada panitia pelaksana tentang kegiatan diskusi publik nikah muda dalam perspektif kesehatan dan kaitannya dengan Agama Islam. Selain membuka acara, beliau juga menyampaikam bahwa, angka pernikahan dini di Kabupaten Kuningan cukup kecil, hanya sekitar 4-5 %. Beliau juga berpesan kepada mahasiswa untuk menikah minimal setelah lulus pendidikan Sarjana.

Wakil Ketua I, Cecep Heriyana, S.KM,. M.PH hadir dalam kegiatan tersebut memberikan sambutan dan mengatakan bahwa STIKes Kuningan terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya kesehatan bagi generasi milenial tentang dampak positif dan negatif jika menikah di usia muda.

“Berbagai upaya penyuluhan dan diskusi publik dari STIKes Kuningan bekerjasama dengan BEM dan berbagai pihak terus kami lakukan kepada masyarakat sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat terlebih bagi generasi muda yang ingin menikah di usia muda” ungkapnya

Narasumber dalam kegiatan diskusi publik ini adalah Dosen Program Studi S1Keperawatan STIKes Kuningan Ns.Rany Muliany Sudirman, S.Kep.,M.Kep, beliau memaparkan terkait faktor-faktor apa saja yang menjadi pemicu terjadinya pernikahan dini/nikah muda dan dampak nya terhadap kesehatan reproduksi.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, diketahui bahwa faktor penyebab terjadinya pernikahan dini antara lain karena faktor Ekonomi, Faktor Pendidikan, Paksaan orang tua, Faktor Budaya, Keinginan sendiri dan Seks pra nikah. Masa reproduksi yang sehat bagi wanita adalah usia 20-35 tahun, sedangkan pria usia 25-40 tahun.

Dampak dari pernikahan dini bagi kesehatan reproduksi antara lain, Berisiko mengalami perdarahan pada masa kehamilan, abortus, Eklampsia, Bayi lahir prematur, BBLR, Malnutrisi pada ibu dan janin, Baby blues, kanker serviks, bahkan kematian ibu/janin. Sedangkan dampak Psikologis dari pernikahan dini adalah belum siap mengontrol emosi, sehingga dapat menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga, KDRT bahkan perceraian. Dampak sosialnya adalah  putus sekolah, pekerjaan terbatas dan kemiskinan.

Untuk mencegah pernikahan dini, peran orang tua sangat diperlukan, baik dalam memberikan edukasi seksual dan kesehatan reproduksi, pemahaman agama sejak dini, dan mengawasi kegiatan serta pergaulan anak. Sedangkan peran pemerintah diharapkan dapat meningkatkan perlindungan anak perempuan usia 15-17 tahun, dengan fokus utama penyelesaian sekolah menengah. menangani norma sosial dan budaya yang menerima dan melestarikan praktik pernikahan dini dengan orang tua, guru, keluaga besar dan tokoh agama, Menangani kerentanan akibat kemiskinan dengan menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk mengakses pendidikan tinggi dan pelatihan keterampilan ekonomi.

Ketua BEM STIKes Kuningan, Salma Insani berharap dengan adanya kegiatan diskusi publik ini bisa menambah pengetahuan generasi milenial sehingga bisa mempertimbangkan dan mempersiapkan pernikahan agar terciptanya keluarga yang sehat dan sejahtera.